Kamis, Februari 28, 2008

Dosis Serap

Studi Upaya Menurunkan Dosis Serap Radiasi Pada Lensa Mata Pasien Dengan Menggunakan Metode baru

Herdi Hermawan, Arif Jauhari

Abstract

Eyes lens is a very sensitive human organ for radiation exposure. On the method to visualize the occipital bone, the position of the eyes is very close to the source of radiation (X-ray tube). This situation is risky to the eyes lens, because the exposure rate will be higher compared with the reverse position. This paper wrote about new radiographic technique for imaging the occipital bone of the head. The result is the new method gives good image and the absorbed dose for the eyes lens significab=ntly lower that the Towne medhod with ratio 1 : 29. Tthe exact value is for Towne method 1.67 mSv and the new mthod 0.06 mSv.

Intisari

Lensa mata merupaka suatu organ yang digolongkan sebagai organ yang bersifat peka terhadap paparan radiasi (radiosensitif). Pada salah satu metode penggambaran radiografi dengan obyek tulang batok kepala (os oksipital) didapati bahwa posisi kepala terletak dekat dengan tabung sinar-x sebagai sumber radiasi. Tentu hal ini tidak menguntungkan. Karena lensa mata berpeluang mengalami kerusakan oleh karena posisi wajah pasien berhadapan langsung dengan sumber radiasi. Sedangkan pada metode tersebut yang ingin di peroleh pada hasil gambaran adalah tulang batok kepala (os. oksipital).
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperoleh suatu kriteria radiografi yang sama dengan Metode Towne sekaligus mampu menurunkan dosis serap radiasi pada lensa mata pasien dengan memodifikasi Metode Towne. Metode yang ditempuh antara lain dengan melakukan percobaan penatalaksanaan dari Metode Towne dan metode baru (modifikasi) dan mengukur dosis serap lensa mata pada masing-masing metode.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini berupa hasil gambar radiografi dari kedua metode tersebut berikut nilai dosis serap untuk keduanya. Sehingga berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa metode hasil modifikasi mampu memberikan kriteria radiografi yang sama dengan Metode Towne dan mampu menurunkan dosis serap lensa mata dengan perbandingan 1: 29 terhadap Metode Towne. Tepatnya adalah untuk metode Towne 1,67 mSv sedangkan metode baru 0.06 mSv.

Kata Kunci: Metode Towne, Os oksipital, Metode Baru, Thermo Luminicensi Dosimeter, Dosis Serap.


A. Pendahuluan
B. Hipotesis
Berdasarkan Hukum Kuadrat Terbalik, maka proyeksi PA axial metode baru dapat memenuhi konsep tersebut. Karena terdapat perbedaan jarak antara Metode Towne dan Metode baru terhadap letak atau posisi lensa mata. Pada Metode baru jarak antara lensa mata terhadap titik fokus lebih panjang jika dibandingkan dengan Metode Towne. Hal ini dikarenakan pada Metode Reverse Towne posisi kepala dalam keadaan prone sehingga menambah jarak antara lensa mata ke titik fokus. Sehingga menurut hukum kuadrat terbalik yang menyatakan bahwa intensitas radiasi berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari sumber akan berdampak dengan semakin jauh jarak target dari sumber, maka semakin kecil intensitas intensitas radiasi. Oleh karena itu dosis serap lensa mata pada metode baru akan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan metode Towne.


C. Metode penelitian

1. Alat dan Bahan
Untuk dapat membuktikan hipotesis ini dibutuhkan penelitian dengan alat dan bahan yang dipergunakan antara lain:

  • Pesawat Rontgen dengan Kapasitas 500mA
  • Outomatic Film Processor.
  • Kaset dan film ukuran 24cm x 30cm sebanyak 2 buah.
  • Grid baik jenis Bucky atau Lysolm ukuran 24cm x 30cm.
  • Phantom kepala beserta marker.
  • TLD-100 sebanyak 30 buah.
  • Seperangkat TLD Reader.


2. Cara Kerja
Pertama dilakukan penelitian di Laboratorium Jurusan Teknik Radiodiagnostik. Terdapat dua tahap percobaan yang dilakukan, yaitu (1) Percobaan penatalaksanaan Proyeksi AP axial Metode Towne dan PA axial Metode baru, hal ini dilakukan untuk mendapatkan pembuktian bahwa hasil gambaran Metode baru dapat sebanding dengan hasil gambaran Metode Towne. (2) Pengukuran dosis serap lensa mata pada kedua metode dengan melakukan pengeksposan sebanyak 5 kali pada masing-masing metode tersebut dengan kondisi yang sama dan diukur dengan menggunakan dosimeter TLD-100.

3. Persiapan Alat
Pada tahap awal, persiapan yang dilakukan yaitu menyalakan pesawat rongent sesuai dengan prosedur menyalakan pesawat yang ditetapkan. Kemudian atur penyudutan tube 300 menghadap meja pemeriksaan dengan FFD 90cm. Lalu persiapkan pula phantom kepala beserta spon pengganjal, kemudian kaset ukuran 24cm x 30cm yang telah terisi film dengan ukuran 24cm x 30cm, juga dipersiapkan lysolm dengan ukuran 24cm x 30cm dan marker R. Untuk melakukan pengukuran dosis serap, dipersiapkan pula TLD-100 sebanyak 30 buah yang telah melalui proses annealing.


4. Langkah Kerja dan Penatalaksanaan
Letakan kaset ukuran 24cm x 30cm yang telah diisi film diatas meja pemeriksaan, dan setelah itu pasangkan lysolm berukuran sama. Kemudian atur phantom kepala dalam posisi AP axial Metode Towne, yaitu garis orbitomeatal tegak lurus dengan bidang film. Lalu pasangkan marker R pada sisi kanan phantom.
Pastikan phantom dalam posisi yang benar dan simetris dengan memasangkan spon pengganjal. Lalu atur central point pada 7,5cm di atas glabella dan central ray 300 caudally. Kemudian lakukan eksposi dengan kondisi 78 KV dan 25 mAs. Hal serupa juga dilakukan pada Metode Baru, namun posisi phantom dalam keadaan prone dengan bagian dahi dan hidung menempel pada bidang kaset. Central ray 300 cranially dan central point diarahkan menuju ke foramen magnum. Setelah itu lakukan eksposi dengan kondisi yang sama dengan sebelumnya dan film diproses dengan automatic processing. Pada kedua pengeksposan tersebut yang dihasilkan adalah gambar radiografi dari Metode Towne dan Metode baru.


5. Pengukuran Dosis Serap dengan TLD-100
Untuk melakukan pengukuran dosis serap radiasi pada lensa mata, dapat dilakukan dengan pemasangan TLD-100 pada phantom dibagian organ mata baik pada Metode Towne maupun Reverse baru. Pada pengukuran ini tidak memerlukan kaset dan film, dikarenakan hasil eksposi tidak dalam bentuk radiograf akan tetapi dalam bentuk data yang tercatat oleh TLD-100. Setelah pemasangan TLD, kemudian lakukan eksposi dengan kondisi yang sama dengan percobaan sebelumnya yaitu 78 KV dan 25 mAS. Kondisi tersebut merupakan kondisi yang biasa diberikan untuk pemotretan kepala axial.
Eksposi dilakukan sebanyak 5 kali pada masing-masing metode, dengan catatan pada setiap eksposi yang dilakukan dipasangkan TLD-100 sebanyak satu seri (3 buah) dan diberi nomor sesuai urutan eksposi. Dari ketiganya akan diambil nilai rata-rata untuk setiap satu kali eksposi/titik penyinaran. Hal ini dimaksudkan agar data yang diperoleh akurat. Dari pengukuran ini didapatkan 5 seri dosis serap yang tercatat oleh TLD-100 bagi masing-masing metode, dan diambil nilai rata-rata dari kelimanya, sehingga diperoleh dosis akumulasi rata-rata lensa mata untuk kedua metode tersebut. Namun besar nilai dosis serap tersebut belum dapat diketahui hingga TLD mengalami proses pembacaan oleh TLD Reader di laboratorium BATAN pada tahap selanjutnya.

6. Penelitian di Laboratorium BATAN
Hal-hal yang dilakukan sebagai persiapan di laboratorium BATAN, yakni diantaranya adalah mempersiapkan TLD-100 dan TLD Reader. Sebelum digunakan TLD-100 harus dalam keadaan netral, maka dilakukan proses annealing yang bertujuan agar elektron-elektron yang masih tersimpan di dalam kristal TLD-100 dapat terlepas, sehingga TLD tidak lagi memiliki muatan.
Langkah Verja yang dilakukan setelah TLD diekspos/digunakan, setiap seri TLD (3 buah) akan dibaca oleh TLD Reader satu persatu dengan pemanasan suhu 500 C sampai suhu mencapai 2500 C hingga kristal TLD memancarkan cahaya. Cahaya yang terpancar itulah yang akan dihitung sebagai dosis serap oleh Photo Multiplier Tube (PMT), dikarenakan cahaya yang dipancarkan sebanding dengan jumlah dosis yang diterima. Dari hasil proses ini diperoleh nilai dosis serap untuk setiap TLD, dan dirata-ratakan pada setiap serinya. Hal serupa dilakukan pada setiap seri TLD yang lainnya sesuai nomor urut eksposi, sehingga diperoleh besar dosis serap lensa mata untuk setiap metode dari nilai rata-rata 5 kali pengeksposan.
Dari proses ini pada akhirnya akan diketahui seberapa besar dosis serap lensa mata pada kedua metode tersebut, dan dapat diketahui pula besar perbedaan nilai dosis serap lensa mata antara Metode Towne dan Metode baru.


E. Hasil
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tanggal 14 Juni 2007 yang mengambil tempat di Laboratorium Jur. TRO dan Laboratorium Dosimetri BATAN, maka didapatkan 2 buah hasil penelitian. Yaitu hasil gambar radiografi dari Metode Towne dan Metode baru; dan hasil pengukuran dosis serap radiasi pada lensa mata untuk Metode Towne dan Metode baru.

Hasil pertama yang diperoleh pada penelitian ini adalah hasil gambaran radiografi untuk Metode Towne dan Metode baru seperti yang terlihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 di bawah ini.

Kedua hasil gambaran tersebut diperoleh dengan pemberian kondisi dan besar sudut penyinaran yang sama. Yaitu dengan kondisi 78 KV, 25 mAs dan central ray untuk Metode Towne sebesar 300 caudally sedangkan untuk Metode baru 300 cranially.

Hasil Pengukuran Dosis Serap

Dari hasil pengukuran dosis serap radiasi pada lensa mata dengan menggunakan dosimeter TLD-100, diperoleh data yang tertera dalam tabel 1. Pada tabel ini data dikelompokan atas dua bagian, yaitu nomor TLD 1 sampai dengan 5 merupakan hasil dari pengukuran untuk Metode Towne. Sedangkan nomor TLD 6 sampai dengan 10 merupakan hasil pengukuran untuk Metode baru.

Pada tabel itu nilai ukur TLD netto untuk setiap TLD didapat dari hasil pengurangan nilai hasil ukur TLD dikurangi nilai back ground

Dari tabel diatas terlihat perbedaan nilai antara Metode Towne (nomor TLD 1-5) dan Metode baru (nomor TLD 6–10). Tabel tersebut menunjukan bahwa nilai hasil pengukuran untuk Metode Towne cenderung lebih besaratau tinggi daripada Metode baru.

Nilai-nilai TLD diatas dikonversikan kedalam satuan dosis serap (Sv) melalui proses kalibrasi TLD menggunakan Cs-137 dengan energi foton sebesar 662 KeV. Hasil kalibrasi ini menggunakan harga faktor kalibrasi terbesar, dan nilainya mulai stabil pada energi foton

Gambar 4. Faktor Kalibrasi TLD-100 Terhadap Berbagai Energi Foton


diatas 250 KeV seperti ditunjukan pada gambar 4 di bawah ini.

Untuk energi foton sinar x, berlaku suatu faktor koreksi ketergantungan energi. Hal ini dikarenakan energi foton sinar x berada dibawah 250 KeV. Sehingga diperoleh nilai faktor kalibrasi bagi TLD sebesar 0,73 yang didapat dari gambar diagram di atas.

Dari tabel di atas diperoleh nilai dosis serap dari setiap nomor TLD yang berkisar antara 1,590 mSv hingga 1,779 mSv. Dari nilai-nilai tersebut diperoleh nilai rata-rata dosis serap lensa mata untuk Metode Towne sebesar 1,673 mSv.

Sedangkan untuk nilai dosis serap lensa mata pada Metode Reverse Towne dapat dilihat pada tabel 4.3 diatas. Pada tabel 4.3 terlihat nilai dosis serap untuk setiap TLD nilainya berkisar antara 0,051 mSv sampai dengan 0,067 mSv. Nilai-nilai tersebut dirata-ratakan menjadi nilai dosis serap radiasi pada lensa mata sebesar 0,057 mSv. Data-data dari tabel 2 dan 3 didapat melalui perhitungan sebagai berikut:

Penutup

Pemeriksaan radiografi tulang tempurung kepala dengan Metode Reverse Towne memiliki beberapa keuntungan ataupun kelebihan, diantaranya yakni :

Dosis serap yang diterima pasien jauh lebih rendah. Sehingga dari segi keamanan, pasien akan lebih diuntungkan.

Hasil gambaran yang dihasilkan cukup optimal, karena memenuhi kriteria gambaran yang dibutuhkan.

Posisi yang digunakan tergolong mudah dilakukan oleh pasien terutama pada pasien yang mengalami trauma dibagian tulang oksipital.

Daftar Acuan

Akhadi, M., (2000). Dasar Dasar Proteksi Radiasi. PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Ballinger, P.W., (1995). Radiographic Positions and Radiologic Procedures vol. II 8th. Mosby-Year Book, Inc., Philadelphia.

Bushong, S.C., (1988). Radiologic Sciance For Technologists fourth edition., Mosby Co., St. Louis.

Dendy, P.P., Heaton. B., (1999). Physics for Diagnostic Radiology, IOP Publishing Ltd. London.

Joedoatmodjo, S., (1996). Petugas Proteksi Radiasi. PUSDIKLAT BATAN, Jakarta.

Kumala, P., (1998), Kamus Saku Kedokteran Dorland edisi 25, EGC, Jakarta.

PUSDIKLAT BATAN, (2005), Deteksi dan Pengukuran Radiasi, PUSDIKLAT BATAN, Jakarta.

Shapiro, J., (1981), Radiation Protection: A Guide for Scientist and Physicians 2nd edition, William & Willey, Boston. W

Makalah pada Seminar Ilmiah Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Jakarta, 1 Agustus 2007.
Mahasiswa Program Diploma III Teknik Radiologi, Politeknik Kesehatan Jakarta II.
Peneliti pada Pusat Kajian Radiografi dan Imajing. Puskaradim@yahoo.com.






1 komentar:

Prono Marhentarko mengatakan...

apakah dosis serap sm dgn dosis ekuivalen?