Tampilkan postingan dengan label Teknik Radiografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Radiografi. Tampilkan semua postingan

Jumat, November 09, 2007

Teknik Radiografi Pasien Ngorok

TEKNIK RADIOGRAFI PADA KLINIS OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA (NGOROK)

Lufti Hajri, Arif Jauhari

Abstract
Obstructive Sleep Apnea or Ngorok is most common popular complaint about in Indonesia. It is an avoided situation for every ones. No method yet to give imaging diagnosis for this complaint. An experiment method used to help and solve this problem. By modification of sinus paranasalis projection i.e. two projection of Lateral Close Mouth and Lateral Open Mouth with pronunciation the letter “B “ found and visualized the anatomy pathology. The adjustment is with the central point of 2, 5 cm inferior sella tursica and central ray vertically with radiographic film.

Key words: Os Palate, Obstructive Sleep Apnea.


1. Latar Belakang.
Mendengkur merupakan suatu penyakit yang berdampak buruk baik bagi penderita maupun orang disekitarnya. Menurut data yang layak dipercaya, mendengkur diderita oleh satu dari lima orang dewasa. Penyebab mendengkur, kata Prof. Hendarto Hendarmin, dokter ahli THT di Jakarta, bermacam-macam. Bisa karena kelainan anatomi hidung (septum deviasi), adanya sumbatan oleh polip, atau alergi yang membuat selaput lendir membengkak sehingga penderita harus bernapas lewat mulut. Mendengkur bisa juga dialami anak-anak, biasanya akibat pembesaran amandel dan adenoid yang ada di belakang hidung.
[i]
Menurut Dr dr Suprihati MSc SpTHT yang menjadi Ketua Bagian THT FK Undip, berdasar penelitian di AS jumlah pria pendengkur lebih banyak yakni 40 persen dibanding wanita (28 persen). Tapi dalam perkembangannya, setelah dilakukan penelitian untuk kelompok umur 30 tahun ternyata wanita yang mendengkur lebih banyak yakni 60,28 persen sedangkan pria hanya 44 persen.
[ii]
Dengan membaca literatur yang ada tentang penanganan pasien penderita Obstructive Sleep Apnea, belum ditemukan suatu tindakan radiografi untuk klinis ini.[iii] Padahal tindakan radiografi ini dijadikan awal penanganan kasus untuk melihat seberapa parah pembesaran palatum yang menyebabkan tersumbatnya jalan napas penderita. Dan juga sebagai penentu untuk tindakan selanjutnya.

2. Sleep Apnea
2.1. Anatomi dan Fisiologi
Palatum merupakan langit-langit mulut yang merupakan sekat yang memisahkan rongga hidung dengan rongga mulut, terdiri atas bagian tulang yang keras di sebelah anterior dan bagian daging yang lunak di sebelah posterior.
[iv] Palatum Durum merupakan bagian anterior palatum, ditandai dengan kerangka tulang yang dilapisi oleh selaput lendir rongga hidung dibagian superior, dan pada permukaan oralnya oleh mukoperiosteum. Terdapat juga celah yang disebut Palatum Fissum. Palatum Molle bagian berdaging atap mulut, membentang dari tepi posterior palatum durum. Dari batas inferiornya yang bbas merupakan tonjolan uvula dengan panjang yang beragam. Yang disebut juga velum palatinum.
Palatum Osseum yaitu bagian tulang pada dua pertiga anterror langit-langit mulut, dibentuk oleh processus palatinus maxillae dan lempeng horizontal os palatinus. Disebut juga bony hard palate.


2.2. Patologi
Sleep Apnoe (Ngorok) merupakam gangguan pernapasan sewaktu tidur yang dapat menyebabkan Obstruksi Jalan Napas (Obstructive Sleep Apnoe/OSA). OSA adalah jenis Apnea waktu tidur yang paling umum OSA muncul ketika saluran pernafasan bagian atas mengalami sumbatan, meskipun upaya untuk bernafas terus berlanjut.Dimana pernapasan terhenti sementara (10 detik-2 menit), kemudian bernafas lagi dan inilah yang disebut Sleep Apnoe (Ngorok).[v] Sumbatan yang mengganggu jalan napas itu disebabkan oleh pembesaran lidah, palatum lunak ataupun dinding faring lateral. Selain itu bisa juga disebabkan abnormalitas tulang.

3. Metode
Untuk mendapatkan hasil gambaran yang dapat memperlihatkan kelainan pada pasien klinis sleep apnea diperlukan alat dan bahan serta tahapan sebagai berikut:
a. Alat dan Bahan
- Pesawat sinar-X
- Kaset ukuran 18 cm x 24 cm sebanyak 2 buah
- Film ukuran 18 cm x 24 cm sebanyak 2 buah
- Konus Diafragma
- Alat Processing Film
- Light Cash untuk evaluasi radiograf
b. Teknik Radiografi
Teknik Radiografi Os Palatum untuk diagnosis sleep apnea dilaksanakan dengan dua proyeksi, yaitu:
o Proyeksi Lateral Close Mouth
Pada proyeksi ini pasien diatur duduk menghadap bucky stand dan sedikit oblique sehingga kepala pasien true lateral. Atur Mid Sagital Plane (MSP) kepala pasien sejajar dengan film dan Interpupillary Line tegak lurus kaset. Pusatkan berkas sinar–X tegak lurus pada titik 2 cm inferior sella tursica. Jarak penyinaran yang digunakan sebesar 90 cm. Kemudian atur faktor eksposi 80 kV dan 12 mAs. Berkut ini adalah posisi pasien proyksi latelral close mouth.
o Proyeksi Lateral Open Mouth disertai mengucapkan huruf “B“


Untuk proyeksi ini pasien diminta mengucapkan huruf “B“. Pasien diatur duduk menghadap bucky stand dan sedikit oblique sehingga kepala pasien true lateral. Atur Mid Sagital Plane (MSP) kepala pasien sejajar dengan film dan Interpupillary Line tegak lurus kaset. Pusatkan berkas sinar-x tegak lurus 2 cm inferior sella tursica. Jarak penyinaran yang digunakan sebesar 90 cm. Kemudian atur faktor eksposi 80 kV dan 12 mAs. Tetapi sebelum disinar, instruksikan pasien agar mengucap huruf “B“.

4. Hasil dan Pembahasan
Dari dua proyeksi yang telah dilakukan maka didapatkan gambaran anatomi palatum. Selain itu juga telihat anatomi Cavitas Nasi, Palatum durum, palatum molle, Lingua dan Uvula. Agar gambaran anatomi tersebut dapat terlihat jelas maka gambaran yang dihasilkan juga harus optimal. Berikut ini adalah hasil gambaran yang dihasilkan dari dua proyeksi yang telah dilakukan.

Alasan penggunaan proyeksi Lateral Close Mouth dan Lateral Open Mouth disertai Mengucap “ B “, dikarenakan kedua proyeksi ini sudah cukup memberikan informasi diagnostik yang diperlukan, sehingga dokter spesialis THT sudah dapat menilai kelainan yang dialami penderita, Adapun proyeksi Lateral Close Mouth adalah untuk melihat anatomi dari Os Palatum secara umum. Sedangkan proyeksi Lateral Open Mouth disertai Mengucap Huruf “ B “ adalah untuk, melihat Palatum Mole yang bergerak naik sehingga mempersempit jalan napas. Dengan demikian kelainan nanatomi dari palatum pasien dapat didiagnosis.

5. Diskusi
Dari uraian di atas maka ditarik kesimpulan bahwa Mendengkur disebabkan oleh penyempitan saluran napas. Dan sangat berhubungan dengan anatomi palatum pasien. Sehingga sebagai penunjang untuk mendiagnosa kelainan ini maka dilaksanakan pemeriksaan Radiografi Os Palatum. Dengan pemeriksaan ini dapat terlihat kelainan dari anatomi palatum mole pasien dan menentukan seberapa parah kelainan ini mengganggu saluran napas pasien. Bagi orang yang sering tidur mendengkur di sarankan untuk melakukan pemeriksaan radiografi ini.

Daftar Pustaka
[i] http://www.kompas.com/kesehatan/news/0312/31/070001.htm
[ii] http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0704/28/dar4.htm
[iii] Walker, R P. Snooring and obstructive sleep apnea. In Bailey BJ, ed. Hesd and Neck Surgery- Otolaryngology . Philadelphia : Lippincott-Raven,1998
[iv] Chaudary BA. Obstructive Sleep Apnoe.Resident and staff Physician 44 (9) 21-34, Philadelphia : 1998 Sep
[v] http://www.kompas.com/kesehatan/news/0312/31/070001.htm C

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, November 08, 2007

Teknik Radiografi Gigi

kTEKNIK PELETAKAN FILM PADA PEMERIKSAAN INSISIVUS ATAS

Oleh: Linda Evans, Arif Jauhari

Abstract
Dental examination, especially the upper incisors is done by holding and forcing the outer dental film surface. This condition feel annoy and uncomfortable for patient even radiographer who assist the film position in the mouth or moreover if he also expose that procedure. We made a new position and condition for solving that problem. By biting the upper end side of the dental film (peak point side) by patient themselves, we found that the result (radiographic dental image) is suitable for diagnosing of the incisors. We asked the dentists to evaluate and analyses the film criteria (between the old compared with the new method). The result, the new method is able to visualize the criteria of the insisivus and suitable for insisivus examination.

Keywords: upper incisors, dental examination, holding and forcing, peak point.

1. Pendahuluan

Radiologi merupakan salah satu unit penunjang medis yang berfungsi sebagai alat penegak diagnosis berbagai jenis penyakit, termasuk gigi geligi yang dapat ditinjau melalui pemeriksaan radiografi dental. Pada pemeriksaan radiografi gigi geligi peran pasien sangat berpengaruh terhadap hasil gambaran yang akan didapat, karena pasien diminta untuk memegang film dental dan menekannya sehingga posisi film dental menempel pada gigi dan gusi yang akan diperiksa. Dengan teknik pemeriksaan seperti ini akan terjadi kemungkinan untuk bergesernya posisi film dental dan mengakibatkan hasil gambaran yang tidak dapat dipakai sebagai alat penunjang diagnosis, sehingga terjadilah pengulangan. Selain itu juga ada beberapa kendala yang dapat menambah resiko pengulangan, seperti pada pasien yang hipersensitif, radang pada gusi (ginggivitis) atau pada pasien yang bentuk anatomi giginya abnormal. Oleh sebab itu radiografer dituntut untuk menambah bersikap inovatif dalam memilih teknik yang dapat memudahkan pemeriksaan dan pasienpun menjadi nyaman saat dilakukannya pemeriksaan.
Pada umumnya pemeriksaan dental, khususnya insisivus atas dilakukan dengan teknik pasien memegang dan menekan salah satu sisi film dental disekitar gigi dan gusi insisivus yang akan diperiksa dengan bantuan ibu jari pasien. Penulis melakukan inovasi dengan cara meletakkan film dental diselipkan diantara insisivus atas dan bawah atau dengan kata lain film digigit, sehingga pasien tidak perlu untuk memegang dan menekan film dental dengan ibu jarinya.

2. Metode

Untuk mendapatkan hasil penelitian ini diperlukan dengan beberapa kriteia, yaitu:
a. Alat dan Bahan
- Film dental ukuran 3 x 4 cm.
- Larutan develover dan fixer dalam wadah yang berukuran kecil
- Pesawat radiografi gigi.
b. Cara Kerja
Pelaksanaan yang pertama dengan teknik pasien menekan film dental pada daerah gigi dan gusi yang akan diperiksa, dan yang kedua dengan cara menyelipkan fim dental diantara gigi insisivus atas dan bawah atau film digigit.


Pertama, pasien diposisikan duduk di kursi pemeriksaan dengan kepala menghadap tabung sinar-x, kepala pasien diatur sedikit fleksi sehingga garis khayal yang ditarik dari achantion ke MAE sejajar dengan lantai, film dental dimasukan ke dalam mulut pasien dengan sisi non timbal menghadap tube. Setelah itu dilakukan cara yaitu peletakan film diselipkan diantara gigi insisivus atas dan bawah atau film digigit pasien dan kemudian cara kedua yaitu peletakkan film dental menempel pada daerah gigi dan gusi dengan bantuan ibu jari pasien. Center ray (pusat sinar) diarahkan vertical angulasi, center point (titik sinar) nya sama yaitu 600 caudali pada tip of nose, dengan faktor eksposi 50 kV ; 7,7 mA ; 1 secon. Setelah selesai pemeriksaan, kedua film dibawa ke kamar gelap untuk diproses.


c. Penilaian
Dilakukan survey gambar hasil kepada dua puluh dokter gigi terhadap delapan foto hasil gambaran dari dua teknik peletakkan film yang berbeda. Parameter numerik penilaian yaitu apabila kriterianya mencakup baik mendapat nilai 75, cukup akan dinilai 50 dan apabila kurang mendapat 25. sebagai evaluasi kriteria penilaian adalah kriteria evaluasi radiografi gigi yaitu corona, corpus, radiks dan pulpa dentis pada dental insisivus atas.

3. Pembahasan

Dari hasil kuisioner pada 20 orang dokter gigi terhadap masing-masing 8 buah hasil foto dental. Pada film digigit menghasilkan nilai 68,44% dan pada film ditempel menghasilkan nilai 69,70%. Sehingga evalusi pada aspek daerah corona didapatkan hasil sedikit lebih bagus dengan cara film ditempel.
Pada evaluasi daerah corpus, pada film digigit menghasilkan nilai 65,31% dan pada film ditempel menghasilkan nilai 61,89%, sehingga hasil corpus yang didapatkan lebih bagus dengan cara film digigit.
Tentang daerah evaluasi radix didapatkan kesimpulan, pada film digigit menghasilkan nilai 66,25% dan pada film ditempel menghasilkan nilai 65,31%, sehingga hasil radix yang didapatkan sedikit lebih bagus dengan cara film digigit.
Kriteria evaluasi akhir dari gigi yaitu daerah pulpa dentis didapatkan pada film digigit menghasilkan nilai 63,75% dan pada film ditempel menghasilkan nilai 65,63%, sehingga untuk kriteria ini hasil pulpa yang didapatkan lebih bagus dengan cara film ditempel.


Dengan demikian berdasarkan tabel 1 terlihat bahwa hasil foto yang digigit menunjukkan nilai persentasi yang relatif sama dengan hasil foto yang ditempel. Hal ini menunjukkan bahwa hasil foto yang digigit (metode baru) menghasilkan tingkat diagnosis yang relatif sama dengan yang ditempel (metode sekarang). Dengan mengingat dari segi kenyamanan pasien, pasien lebih merasa nyaman dengan menggunakan teknik film digigit dibandingkan dengan menggunakan film ditempel.

Oleh sebab itu teknik peletakkan film dental dengan cara film digigit dapat juga dijadikan sebagai teknik alternatif oleh petugas radiologi didalam melakukan pemeriksaan dental insisivus atas khususnya untuk menghadapi paien yang hipersensitif dan kurang kooperatif.


4. Penutup

Terdapat beberapa kesimpulan dari metode baru yang telah dilakukan bila dibandingkan dengan metode sekarang untuk pemeriksaan insisivus atas, yaitu: Hasil gambaran dengan metode baru dapat dipakai sebagai alternatif penatalaksanaan pasien dalam pemeriksaan gigi insisivus atas.
Pada pemeriksaan dengan metode baru, pasien merasa lebih nyaman dengan menggunakan teknik peletakkan film dental dengan cara digigit antara gigi insisivus atas dan insisivus bawah dibandingkan dengan cara lama dengan pasien harus menekan film dental dengan ibu jarinya.
Dengan melihat hasil keseluruhan dari penelitian yang telah dilakukan, maka disarankan agar teknik peletakkan film dental dengan cara film digigit diantara gigi insisivus atas dan insisivus bawah ini dapat dijadikan teknik alternatif untuk melakukan pemeriksaan dental insisivus atas. Apalagi bila dilihat dari segi kemudahan dan kenyamanan pasien, khususnya bagi pasien yang kurang kooperatif. Dengan demikian diharapkan pemeriksaan tidak sering diulang dan tanpa harus mengurang kualitas hasil gambaran.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Clark, K.C., (1974), Positioning Radiography. Volume 2. Churchill Livingstone, London.
  2. Fong, E., et al., (1980), Body Structures and Functions. 6th ed. Delmar Publishing Inc., Boston.
  3. Hoxter, E.A., (1978), Teknik Pemotretan Rontgen. Hlm 129, EGC, Jakarta.
  4. Kahe, W., dkk, (1999), Atlas Berwarna dan Teks Anatomi Manusia Alat- Alat Dalam. Jilid 2. edisi 6 yang direvisi. Hipocrates. Jakarta.
  5. Dean, M.R.E., (1975), Basic Anatomy and Physiology for Radiographers, 2nd edition, Blackwell Scentific Publ., Oxford.
  6. Merriel, V., (2002), Atlas of Rontgenography Posisition and Standard Radiologic Prosedures. Volume 2. 4th Edition. Mosby Co., Philadelphia.
  7. Itjninngsih W.H., (1989), Anatomi Gigi. EGC, Jakarta.
  8. White, S.C., (2000), Oral Radiology Principle and Interpretation. 5th Edition. Mosby Co., Philadelphia. ©

[+/-] Selengkapnya...